Banyak warisan yang papaku tinggalkan buatku sebelum dia meninggal.
Tapi menariknya, yang paling ku ingat dan hargai, justru bukan warisan harta atau barang tiga dimensi yang sifatnya fana. Warisan itu adalah ajaran-ajaran kehidupan yang tidak akan hilang selama aku hidup. Dia mungkin tidak pernah bermaksud menjadikannya warisan, tapi nyatanya hingga saat ini, ajaran-ajarannya menjadi bekal kekal dalam aku melanjutkan hidup tanpanya.
Tahun ini ada satu hal terpenting yang harus terus kuingat, yang harus terus kupelajari dan praktekan, yang pada akhirnya mendorongku untuk menulis ini: pengendalian diri. Ketika kamu tidak pernah dicobai sedemikian hebatnya, jangan terlalu percaya diri bahwa skill kontrol dirimu sudah baik. Aku salah satu orang yang merasa punya kontrol diri itu, hingga akhirnya cobaan besar muncul terus-menerus. Sempat gagal berkali-kali, namun pada akhirnya aku berkomitmen untuk berlatih melawan egoku sendiri, dengan harapan nantinya hal ini bisa menjadi kebiasaan yang terasa effortless.
Di saat-saat seperti ini, aku selalu teringat satu momen bersama papaku ketika kecil. Kira-kira waktu itu umurku 13–14 tahun. Kami sekeluarga sedang sarapan di sebuah hotel saat liburan sekolah. Di tengah-tengah menikmati sarapanku, aku melihat seorang bapak-bapak yang kerap melirikku dengan senyuman aneh yang tentunya membuatku tidak nyaman. Sekali dua kali coba kuabaikan, tapi setiap aku cek, dia tetap melakukannya. Tak tahan dengan situasi yang tidak nyaman itu, aku merasa harus melaporkannya ke papaku.
“Itu loh, Pa. Om-om di seberang ngeliatin aku terus.”
Respons papaku setelahnya benar-benar di luar dugaanku. Diriku yang saat itu merasa menjadi korban ketidaknyamanan yang dihasilkan orang lain ini berharap bisa lebih tenang ketika papaku akan bertindak untuk membela anaknya. Tidak dipungkiri, di pikiranku yang masih terbatas itu ada harapan kecil bahwa papaku setidaknya akan menatapnya balik, untuk memberi sinyal, “Hey, stop. Kamu membuat anakku tidak nyaman.”
Namun yang terjadi sebaliknya. Papa tidak melirik orang itu sama sekali, tetap melanjutkan kegiatan makannya, dan berkata:
“Biarkan. Kan dia punya mata.”
Tidak ada penjelasan tambahan. Hanya itu.
Diriku dengan kondisi frontal lobe yang belum berkembang sempurna saat itu sudah pasti tidak paham dengan maksud kalimat papa tersebut. Aku cemberut, menghela napas jengkel, merasa kecewa dengannya. Bisa-bisanya dia tidak tersinggung dan tergerak untuk membela anak perempuannya yang terganggu, batinku saat itu. Namun, tidak dipungkiri, kata-kata itu seperti memaksaku untuk tidak fokus pada aktivitas om-om tadi. Aku kemudian hanya fokus melanjutkan makan. Tidak ada yang terjadi lagi setelahnya terkait dengan om-om itu.
Selain itu, ada beberapa kejadian lain yang mirip. Lagi-lagi aku berharap papa membelaku dan memarahi orang yang membuatku kecewa dan tidak nyaman, tapi dia seringkali memilih untuk tidak menuruti egoku. Selama dia hidup, dia lebih sering membiarkanku berada di ruang tidak nyaman daripada menambah masalah demi “melindungi” aku.
Namun, saking di luar duganya, respons papaku ini menempel jelas di memoriku hingga sekarang. Bertahun-tahun aku mencoba memahami maksud papa. Tak ingat di umur berapa, tapi pada akhirnya aku justru bersyukur dia meresponsku dengan kalimat itu. Karena, sadar atau tidak sadar, selain dia melatihku untuk tidak bergantung dengannya, dia sedang mengajarkan aku sebuah skill self-control sejak dini.
Jika ingin dibedah, kata-kata “dia punya mata” bukan untuk membela orang itu, tapi lebih seperti mengingatkanku bahwa setiap orang punya free will-nya masing-masing. Dan kehendak bebas orang tidak selamanya layak kita respons.
Toh, dengan dilihat om-om itu, tidak akan ada yang berubah dalam hidupku. Malah bisa berpotensi berubah jika aku memutuskan untuk meresponsnya. Aku boleh saja marah, boleh saja merasa tidak nyaman, tapi apakah situasi ini dan orang itu layak mendapatkan kemarahanku? Belum tentu.
Beberapa menit setelah kejadian itu pun, kemarahan dan ketidaknyamananku bahkan sudah hilang. Jadi, dari awal mungkin memang tidak perlu untuk dibesar-besarkan.
⏭️
Fast-forward ke hidupku yang sekarang, di umur 28 tahun, yang sudah beberapa kali disalahpahami orang. Tentu situasinya lebih rumit daripada sekadar dilihati om-om.
Terhadap setiap orang yang menilaiku salah, ada dorongan besar untuk menjelaskan diri sendiri, mengklarifikasi, dan meluruskan pandangan orang itu. Manusiawi jika ego terluka. Aku tidak tahan untuk melindungi diriku sendiri. Namun jika terus-terusan merespons, meluruskan, dan mengklarifikasi demi memenuhi ego pribadi, secara tidak sadar aku sedang melatih diriku untuk terus memberi makan ego itu.
Pertanyaannya, mau sampai kapan?
Aku sudah sampai pada kesadaran bahwa setiap orang punya kapasitasnya masing-masing. Mungkin cara bertumbuh mereka berbeda denganku, sehingga cara pandang kami sangat berseberangan. Faktanya, interpretasi orang terhadapku lebih menunjukkan karakter mereka daripada menggambarkan karakterku.
Aku bisa memperlakukan lima orang dengan sama persis, dan kelima orang itu bisa menilai karakterku dengan hasil yang berbeda-beda. Mau dikoreksi dan dijelaskan bagaimanapun, aku tidak bisa mengubah cara pandang mereka terhadapku. Menyadari ini, aku belajar ikhlas untuk tidak perlu menjelaskan siapa diriku lagi.
“Biarkan. Kan dia punya mata,” menjadi sebuah reminder yang sama.
Mata, telinga, hati, otak, ucapan, perilaku, dan pada akhirnya interpretasi orang tidak bisa kita kontrol. Itu sudah menjadi bagian dari konsekuensi adanya free will setiap orang di dunia ini. Nilai diriku tidak berubah hanya karena mereka tidak mampu melihat ketulusan niatku yang sebenarnya.
Aku tidak harus merasa bertanggung jawab untuk meluruskan setiap kesalahpahaman, terutama ketika hal itu tidak mengganggu hidupku atau melanggar batas yang perlu kujaga.
Aku mau terus melatih itu sekarang. Tidak menjadi orang yang terus-terusan bertanggung jawab atas kegagalan dan keterbatasan mereka memahamiku. Aku mau membiarkan orang menilaiku sebagaimana mereka menangkap setiap ucapan dan perilakuku. Aku tidak akan berubah hanya untuk membuat mereka akhirnya berhasil memahami diriku sesuai mauku.
Jika ada orang yang menilaiku buruk dan merasa tidak cocok dengan kehadiranku, berarti memang kita tidak berjodoh untuk mempunyai hubungan yang lebih akrab. Berarti ada yang lebih pantas untuk menerima karakterku dan merasa nyaman dengan itu.
Aku boleh merasa direndahkan dan terganggu dengan cara orang memperlakukanku, tapi yang bisa kukontrol hanyalah perilakuku sendiri setelah itu.
Bertahan, menjelaskan, dan berharap orang berubah.
Atau aku bisa diam, cuek, dan akhirnya menjauh saja.
Sudah sering kulakukan yang pertama. Hasilnya justru aku merasa kehilangan diriku sendiri. Dan ketika kucoba yang kedua, muncul kesadaran bahwa ternyata aku bisa membiarkan orang salah paham, dan dunia tetap akan sama seperti biasanya.
Turns out, I don't need to “win” the narrative. You can think whatever you want, and I know what I mean. And from that, I feel true freedom and true peace.
Pada akhirnya, aku belajar membedakan mana hal yang memang perlu aku respons dan mana yang hanya sedang mengetuk egoku.
Kadang self-control adalah kemampuan untuk menerima bahwa orang lain bebas melakukan dan memikirkan sesuatu yang tidak aku sukai, tanpa merasa harus ikut masuk ke dalamnya.
Ironisnya, usahaku yang mengesampingkan egoku ini justru berpotensi dipandang egois oleh orang lain. But I’m okay with that irony. Selalu ada konsekuensi di setiap pilihan.
💌
Untukmu yang membaca, semoga warisan ajaran papaku ini tidak hanya berhenti di aku saja, tapi juga bisa bermanfaat buat hidup kamu juga.
Recommended sih, hehe!
Comments
Post a Comment