Hari ini, aku belajar sesuatu tentang diriku sendiri. Belakangan ini aku baru sadar kalau ternyata ada pola dari hal-hal yang kusukai. Aku selalu tertarik sama sesuatu yang membutuhkan keterampilan teknis. Bukan sekadar sesuatu yang prinsipnya, "yang penting bisa." Tennis. Piano. Editing. Tiga hal yang belakangan ini jadi obsesi terbesarku. Dan lucunya, ketiganya punya satu kesamaan: semuanya membutuhkan keterampilan teknis yang nggak bisa dikuasai dalam waktu singkat. Segala sesuatu yang teknis pasti punya proses yang panjang. Ada banyak hal kecil yang harus dipelajari, diulang, diperbaiki, lalu dicoba lagi. Butuh kesabaran, disiplin, dan ketenangan. Mungkin buat sebagian orang proses seperti ini membosankan, tapi entah kenapa aku justru menikmatinya. Ada sesuatu yang elegan dari bagaimana seseorang bisa menguasai sesuatu lewat proses yang begitu panjang. Nggak ada jalan pintas untuk menjadi mahir. Dan meskipun sampai sekarang aku masih jauh dari kata hebat dalam ketiga hal...
Banyak warisan yang papaku tinggalkan buatku sebelum dia meninggal. Tapi menariknya, yang paling ku ingat dan hargai, justru bukan warisan harta atau barang tiga dimensi yang sifatnya fana. Warisan itu adalah ajaran-ajaran kehidupan yang tidak akan hilang selama aku hidup. Dia mungkin tidak pernah bermaksud menjadikannya warisan, tapi nyatanya hingga saat ini, ajaran-ajarannya menjadi bekal kekal dalam aku melanjutkan hidup tanpanya. Tahun ini ada satu hal terpenting yang harus terus kuingat, yang harus terus kupelajari dan praktekan, yang pada akhirnya mendorongku untuk menulis ini: pengendalian diri. Ketika kamu tidak pernah dicobai sedemikian hebatnya, jangan terlalu percaya diri bahwa skill kontrol dirimu sudah baik. Aku salah satu orang yang merasa punya kontrol diri itu, hingga akhirnya cobaan besar muncul terus-menerus. Sempat gagal berkali-kali, namun pada akhirnya aku berkomitmen untuk berlatih melawan egoku sendiri, dengan harapan nantinya hal ini bisa menjadi kebiasaan yang...